Teruntuk Bapak tersayang

IMG_1487

 

Sawah hijau membentang, perbukitan hijau nan tinggi dan jalan mulus yang lengang menemani perjalanan kami siang itu. Cuaca cerah berawan, burung- burung pun beterbangan berkejar- kejaran dan bercengkrama. Indah sekali perjalanan tersebut dan kami menikmatinya, setidaknya untuk sepersekian detik, ketika kami disadarkan tentang tujuan akhir perjalanan kami tersebut. Kami berjalan ke arah pedesaan itu untuk mengantarkan Bapak kami tercinta ke tempat peristirahatan terakhirnya. Seperti namanya, tempat peristirahatan terakhir yang Bapak pilih ini benar- benar merupakan tempat peristirahatan yang sempurna: menenangkan, hijau, asri, dan udara pedesaan yang sejuk dan syahdu. Bapak memang pandai memilih tempat beliau dibaringkan untuk selamanya di muka bumi ini dan mengamanahkan kepada Mamah untuk diistirahatkan di taman pemakaman tersebut. Saya pun dapat membayangkan mengapa Bapak ingin dimakamkan di sini. Perjalanan yang dihiasi pemandangan yang indah menuju makam ini mengingatkan saya tentang kebiasaan Bapak mengajak kami putra-putrinya untuk bepergian keluar kota dengan mobil dan menikmati setiap perjalanan. Saya yakin Bapak juga menikmati perjalanannya yang terakhir ini dengan kami, di mobil ambulans yang mengantarkannya.

Sulit untuk membohongi diri sendiri untuk tidak sedih dan tidak menangis, namun biarkan kami mengantar Bapak dengan segala keindahan dan kebaikan, seperti kenangan indah dan baik yang telah Bapak ukir sepanjang enampuluh delapan tahun usia hidup beliau di mata keluarga besar, sahabat dan rekan- rekannya. Kami tidak ingin airmata ini menghalangi perjalanan Bapak menemui Penciptanya dan menjadi “hal yang tidak terselesaikan” di dunia ini. Kami harus tegar dan ikhlas untuk Bapak. Tegar dan tawakal. Itulah hal yang selalu diajarkan oleh Bapak dan dapat terlihat dengan jelas beberapa bulan terakhir di hidup Bapak. Bapak tegar dan tawakal dalam menghadapi penyakit yang dikirimkan oleh Tuhan kepadanya. Tidak pernah sedetikpun bibirnya lepas dari mengagungkan nama Tuhan dan tidak pernah lepas pikirannya dari Sang Pemberi Kehidupan, walaupun badannya tak kuasa untuk tegak, sholat selalu Bapak tegakkan. Pelajaran yang sangat berharga buat kami, penerusnya untuk selalu memperjuangkan hidup dan mati untuk dapat selalu berdoa dan memohon kepada Sang Pencipta.

Tuhan menyayangi Bapak lebih dari kami, dan memanggil Bapak di saat yang benar- benar indah, seperti yang diinginkan orang banyak. Di penghujung bulan indah Ramadhan, di malam jumat, hanya 2 hari menuju Hari Kemenangan. Bapak telah mencapai Hari Kemenangannya sendiri, dan siapa yang tahu, mungkin Bapak juga telah mendapat anugerah  malam Lailatul Qadr itu. Bapak telah sembuh dari penyakitnya dan berada di tempat yang indah, tanpa rasa sakit, rasa takut dan rasa sedih.

Kenangan- kenangan indah akan mengisi hari- hari kami sepeninggal Bapak, dan kami tidak ingin meneteskan airmata  lagi agar jalan Bapak ringan di sana. Airmata itu akan berubah menjadi doa dan harapan untuk Bapak agar bahagia dan tenang di sana. Kami yakin ketika kami rindu dengan Bapak, jarak kami hanya sebatas doa dan sujud kami. Di sanalah kami dapat bertemu dengan Bapak. Tidak ada lagi hari- hari panjang penuh rasa sakit seperti yang selama ini Bapak rasakan. Tidak ada lagi rasa sakit ketika Bapak bangkit dari tidur Bapak. Bapak sekarang bisa berjalan dengan ringan dan tersenyum melihat kami: anak mantu dan cucu Bapak serta Mamah yang selalu mendoakan Bapak di sana. Tuhan merestui kita semua. Sampai jumpa di doa- doa kami dan di dalam mimpi malam ini ya, Bapak.

 

Dari putri Bapak yang selalu menyayangi dan merindukan Bapak.

 

Mbak Dita

Menulis untuk Keabadian

Tags

Kubuka kembali buku diari elektronikku ini. Lama sejak aku mengisinya untuk terakhir kali. Beberapa purnama terlewati, tanpa ada gerakan yang diwujudkan otak dan tanganku ini untuk menggoreskan apapun di buku diari elektronikku ini. Ah, aku benci berada didalam keadaan dimana aku terlalu sibuk untuk meluangkan waktu demi rekreasi otakku ini. Aku sadar aku telah terkungkung dalam penjara rutinitasku yang tanpa kusadari lama kelamaan telah membuat aku terlalu nyaman. Akan terus kupegang dan kuasah cambuk penggores ceritaku ini, agar ia selalu tajam ketika aku akan berkutat kembali dengan tulisan- tulisanku.

Hasil gambar untuk writing

Akan aku jadikan motor penggerak, pesan dari Pramoedya Ananta Toer,

menulislah untuk keabadian.

Bila aku bukan menulis untuk diriku sendiri, atau apabila belum begitu berguna untuk orang lain, maka setidaknya akan aku persembahkan tulisanku ini untuk kedua anakku tercinta yang kelak akan bisa kembali membaca lembaran cerita lama yang digoreskan Ibu mereka yang sangat mencintai mereka.

Aku akan terus bergerak, terus menulis, membaca dan menulis untuk menggerakkan orang- orang di sekelilingku. Kiranya semesta mendukung!

 

Teruntuk Anak Kita

Anakmu bukan milikmu,

Mereka lahir lewat engkau,

tetapi bukan dari engkau.

Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu

(Kahlil Gibran)

Seorang anak tak pernah memilih siapa orangtuanya,

Seorang anak tak pernah memilih rahim siapa yang akan ia tempati sementara selama 9 bulan lamanya

Seorang anak tak pernah tahu bagaimana ia lahir

yang ia ketahui hanyalah ia lahir karena cinta kasih Tuhan

Yang ia bisa pilih yaitu kehidupan yang baik

Seorang anak tak pernah meminta segala kemewahan duniawi, gemerlap kehidupan negeri dongeng

Seorang anak tak pernah meminta segala kekayaan di dunia ini

Satu-satunya yang ia pinta hanyalah kesederhanaan sebuah kasih sayang yang tulus

yang diberikan sang orangtua, sosok yang menjadi perantara sang anak dan Sang Pemberi Kehidupan

Yang seorang anak pinta, hanyalah limpahan kasih sayang yang tak berujung lelah, waktu, materi, air mata, bahkan darah….

Yang seorang anak pinta, hanyalah kehidupan yang baik, cerah dan indah

yang menyadarkannya akan arti pentingnya kasih sayang Tuhan kepada hambaNYA

Sehingga, kelak sang anak, bisa mengenal sosok Tuhan melalui orangtuanya

Semulia itulah amanat yang diberikan kepada kita, sang orangtua

Sesederhana itulah, anak kita meminta kita untuk menjadi orangtua yang baik

Agar kita, bisa bertanggungjawab kepadaNYA.

Untuk seluruh anak Indonesia di luar sana, semoga hidup yang baik selalu memeluk erat kalian dengan mesra

Cara Menghitung Z Score

Buat belajar!

proyekruspitaa

Secara umum, rumus perhitungan Z-score adalah

Z-score                        =

Nilai simpang baku rujukan disini maksudnya adalah selisih kasus dengan standar +1 SD atau -1 SD. Jadi apabila BB/TB pada kasus lebih besar daripada median, maka nilai simpang baku rujukannya diperoleh dengan mengurangi +1 SD dengan median. Tetapi jika BB/TB kasus lebih kecil daripada median, maka nilai simpang baku rujukannya menjadi median dikurangi dengan -1 SD. Agar lebih mudah memahami mari kita lihat contoh dibawah ini.

Contoh :

Seorang anak laki-laki berumur 26 bulan dengan tinggi badan 90 cm dan berat badan 15 kg, dan seorang anak laki-laki dengan umur 11 bulan dengan panjang badan 68 cm serta berat badan 5 kg.

Dit. Status Gizi…..?

Ans :

Distribusi Simpang Baku

1. BB/U

Umur Simpang Baku
-3 SD -2 SD -1 SD Median +1 SD +2 SD +3 SD
11 Bulan 6,8 7,6 8,4 9,4 10,5 11,7 13
26 Bulan 8,9 10,0

View original post 642 more words

Pediatri progresif atau konservatif?

Tags

, ,

Pediatrician - Blank - July 18

Dalam hal medis, opini kedua atau second opinion itu merupakan hal yang sangat lumrah dan sudah menjadi hak bagi sang pasien untuk melakukannya. Second opinion dilakukan ketika sang pasien merasa ragu atau gamang dengan dokter utama yang memegang first opinion. Pasien berhak melebarkan pengetahuannya dan mencaritahu segala jawaban atas pertanyaannya yang berkaitan dengan tindakan medis yang akan dilakukan. Tidak jarang, second opinion yang hanya mendapatkan posisi kedua dalam skala prioritas sang pasien dan keluarganya, beralih menjadi first opinion yang memenangkan posisi utama. Namun, tidak jarang juga second opinion akan tetap menjadi second opinion. Tidak ada yang salah dalam konsep second opinion. Semua tergantung kepada pemahaman dan keputusan yang diambil oleh sang pasien dan etika si dokter.

Saya sendiri pasien yang secara tidak sengaja mendapatkan second opinion dari dokter kedua yang tidak pernah saya duga sebelumnya memberi second opinion tersebut. Ceritanya, suatu hari dalam keadaan darurat yang disebabkan oleh sembelit bayi 6 bulan saya, saya harus bertemu pediatric untuk tentunya membantu saya mengatasi konstipasi pada bayi saya yang sudah mulai memulai mendapatkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).  Pediatric langganan saya saat itu kebetulan sedang ke luar negeri selama seminggu. Alhasil, saya mau tidak mau terpaksa menemui pediatric yangada di RS khusus Ibu dan Anak yang terkenal di Jogja ini. Seperti biasa, grafik pertumbuhan bayi menjadi hal yang paling esensial diperhatikan oleh para pediatric. Sang pediatric yang baru pertamakali menangani dan bertemu dengan bayi saya langsung kaget dan menunjukkan kekhawatiran mendalamnya tentang pertumbuhan bayi saya. Selama rentang 3 minggu dari control terakhir, berat badan bayi saya tidak bertambah maupun berkurang sama sekali! Pun panjang badannya. Yang bertambah hanyalah lingkar kepala. Sebagai ibu baru yang merasa sudah memberikan gizi yang terbaik, saya juga terbawa perasaan takut yang mencekam sekaligus khawatir, melihat respon sang pediatric yang menyalahkan saya membuang- buang waktu selama beberapa bulan ini di periode keemasan bayi saya. Pada suatu titik, pediatric muda, cantik, energik, independen ini menanyakan kepada pediatric siapa biasanya saya control? Ketika saya menyebutkan nama pediatric langganan saya yang sudah menangani bayi saya sejak kelahiran bayi saya, sang pediatric cantik langsung menununjukkan sikap reaktifnya dengan mengatakan, bahwa dalam beberapa kasus, saya setuju bila ditangani oleh dokter (anak) yang konservatif, namun untuk urusan (tumbuh kembang) ini, saya lebih menganjurkan untuk lebih progresif. Sang pediatric yang baru mengantungi gelar Magister Kesehatannya ini rupanya sudah menunjukkan posisi dominannya.

Merasa tertekan dan khawatir dengan ilustrasi yang diberikan oleh sang pediatric tentang kekurangan hormone tiroid yang mungkin mengganggu perkembangan bayi saya, saya langsung mengiyakan saran untuk memeriksakan ke laboratorium klinik tentang hormone bayi saya. Cek lab yang cukup mahal itu selesai dengan hasil yang cukup membuat saya takut, karena dari 17 item yang jadi indikasi, 8 di antaranya berada di angka yang tidak normal. Saya tidak mau terlalu ambil pusing dulu soal hasil lab sebelum mengkonsultasinya kepada dokter anak yang bersangkutan. Untuk lebih jelasnya, berikut hasil tes lab hormone bayi saya, yang angkanya di luar dari rujukan normal:

Indicator Hasil Rujukan normal
MCV 76.7 80 – 100
MCH 25.5 26 – 34
Eosinophil 8 2 – 4
Neutrophil 20 50 – 70
Limfosit 63.3 25 – 40
PDW 8.4 9 – 13
RDW 34.7 35 – 47

Hematologi beberapa abnormal, namun kesan normal. Hasil pemeriksaan hormone Tyroid: TSH (ELFA) hasilnya Euthyroid, yaitu di angka 2.28. klasifikasi hormone tyroid:

Euthyroid            : 0.25 – 5

Hyperthyroid     : < 0.15

Hypotthyroid     : >7

Secara umum, bayi saya “hanya” didiagnosa defisiensi zat besi, yang belakangan saya ketahui bahwa sangat normal terjadi pada bayi usia 6 bulan yang ASI ibunya sudah tidak bisa memenuhi kecukupan zat besi sedangkan kebutuhan bayi akan zat besi sangat melonjak.

Dengan membawa hasil lab di tangan saya, dan perasaan yang sedikit cemas, saya kembali ke pediatric langganan saya. Bertolakbelakang dengan kecemasan saya, sang pediatric yang sudah senior dan telah meraih gelar PhD, nya ini menenangkan saya dan menjelaskan sebenarnya tidak perlu mengambil langkah tes lab terlebih dahulu. Pediatric yang ramah terhadap semua pasiennya ini termasuk pediatric yang selalu positif, tidak pernah menumbuhkan rasa tidak aman atau takut ke dalam pikiran pasien. Ia membesarkan hati saya untuk tidak terlalu khawatir yang malah berujung kepada kontra-produktif. Solusi yang dilakukan bersama adalah membenahi kembali pola makan sang bayi, dan menambah frekuensi dan kuantitas serta kualitas asupan gizi sang bayi. Bubur instan juga bukan hal yang tabu untuk sang bayi, namun memakai satu jenis bubur instan yang dikeluarkan oleh produsen khusus susu yang sudah terkenal spesialisasi pada produk makanan dan minuman bayi. MPASI rumahan lebih bagus lagi, dipadukan dengan sayur yang dicampur dan buah sebagai selingan.

Dengan berbekal saran pediatric ini, saya bisa sedikit tenang dan membiarkan pikiran logis saya mendominasi otak saya untuk segera menghasilkan sebuah tindakan nyata. Ketakutan sang pediatric progresif tentang hormone tyroid pada bayi saya (untungnya) tidak terbukti. Yang diperlukan adalah afirmasi positif, dukungan dan tindakan nyata dari orang- orang di sekitar ibu dan bayi yang akan berbuah pada tindakan nyata untuk meningkatkan pertumbuhan si bayi. Menindaklanjuti diagnosa bayi saya, saya tetap memberikan ASI, ditambah bantuan susu formula, bubur instan, ataupun bubur non- instan, serta buah dan susu formula cair tinggi kalori yang diberikan Cuma – Cuma dari salah satu produsen produk kesehatan terkemuka dari Belanda atas rekomendasi pediatric langganan saya yang dicap sebagai salah satu pediatric konservatif. Nah, sekarang sudah bisa mengambil sikap kan ketika dihadapkan atau berkonsultasi dengan pediatric konservatif atau progresif? J ya, masing- masing memiliki kekurangan dan kelebihan, dan saya sendiri adalah tipe orang yang sangat percaya bahwa “ we are our own doctor”, artinya kita sendiri lah yang akan menjadi dokter bagi kita sendiri dan kita tahu yang terbaik buat kita dan anak kita. Semoga kesehatan akan selalu milik kita bersama!

A Letter To My Indonesia

truly true! CHANGE, not just words, but also action!

Kitty Sitompul

To all my Indonesian brothers and sisters;

If you can read this article in English and understand it without any problem, chances are you’ve got a good education, good enough to communicate in a foreign language, or you’re open-minded, open-minded enough to know that being able to speak English doesn’t make you less patriotic.

In fact, this whole article is about patriotism. Yes, Indonesia. I’m looking at you. Sharply. And the smart people of Indonesia, you too. I want to say this: We failed our country, didn’t we?

My husband and I just came back from Indonesia a couple days ago. I was pretty hopeful to see the new Indonesia, since we have our new president and a new set of parliaments. But Indonesia is the same, even backward. I know there are many people, just like me, put their hopes up along with the new Jokowi administration. I also…

View original post 925 more words

Apresiasi Sastra Sapardi Djoko Damono (RESENSI)

DSC_0048

             Membaca tulisan karya sastrawan dan pujangga besar Indonesia, Sapardi Djoko Damono, mengantarkan saya kepada kenikmatan utuh dalam mengembara di dunia imajinasi karya sastra. Tidak berlebihan jika saya  jika saya mengakui sangat menikmati membaca larik demi larik, kata demi kata yang ditorehkan oleh Guru Besar FIB UI ini. Deskripsi manisnya tentang suatu hal digambarkan secara otentik namun sederhana, mudah tersampaikan kepada pembacanya. SDD, begitu ia kerap disapa, nampaknya benar- benar ingin memanjakan penikmat karya sastranya dengan diksi ciamik dan deskripsi metaforis yang sangat halus.

Dalam bukunya, yang berjudul “Bilang Begini, Maksudnya Begitu” yang merupakan tulisan pengapresiasian karya sastra, untuk mengapresiasi  atau memberi penghargaan terhadap sebuah karya sastra, maka dibutuhkan pemahaman terhadap karya sastra tersebut. Dengan memahami makna dan pesan sebuah karya sastra, niscaya pembaca akan sangat menikmati pengembaraan di belantara kata- kata sang penulis hingga mencapai ejakulasi ide atau inspirasi.  Bukan tanpa tujuan seorang penulis menorehkan karyanya. Selalu ada maksud dan pesan yang ingin disampaikan di dalam tulisan tersebut. Itulah yang terasa dalam setiap karya yang dilahirkan oleh pujangga kelahiran Solo ini. Karyanya selalu dapat menggugah hati pembacanya, untuk menelisik setiap perkara kecil dalam kehidupan ini, menggelitik benak untuk menemukan berbagai ide tentang segala sesuatu di dunia ini. Keberhasilan sebuah karya sastra dalam menggerakkan pembacanya, untuk berpikir, bertindak dan berkarya.

Ada baiknya setiap fakultas Sastra di setiap kampus kenamaan di Indonesia menggerakkan mahasiswanya untuk memahami sastra dengan cara menyenangkan melalui karya sastra Sapardi Djoko Damono. Masih dari bukunya yang tersebut di atas, di halaman- halaman pertama, pembaca diberikan pencerahan bahwa dalam setiap puisi, sebagai salah satu produk karya sastra, tidak terdapat tanda baca. Tulisan dibiarkan mengalir begitu saja, sesuka hati penulisnya, sesuai bentuk yang diinginkannya. Puisi bukanlah berita, yang dituliskan dengan tanda baca dan aturan baku lainnya. Mengenai bentuk yang arbitrer, juga diterapkan pada pujangga asing lainnya, Guillame Appolinaire (1880 -1918), yang melahirkan sebuah Kaligram, sebagai perpaduan dua produk karya seni; puisi dan lukisan. Larik puisi dibentuk sedemikian rupa, sehingga merepresentasikan suatu objek yang berkaitan dengan isi puisi.

guillaume

Selain mengupas tentang apresiasi terhadap puisi, mengenai karya sastra terjemahan juga dibahas secara lugas; bahwa sebuah karya sastra, walaupun merupakan terjemahan, juga merupakan hasil karya sang penterjemah, karena membutuhkan interpretasi orisinil dari sang penterjemah dan menghasilkan karya yang baru. Mengenai puisi, SDD memiliki kenangan menggelitik ketika larik “aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu; aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” dikenal dan dijadikan andalan oleh setiap generasi dalam setiap kisah percintaan mereka, namun sebagai karya dari Kahlil Gibran. Menyedihkan memang mengetahui bahwa tidak semua pembaca buku melek sastra.

 

 Imajinasi Berlimpah

Dalam bukunya yang lain, yang tengah menjadi demam di kalangan penikmat sastra, karena sempat menjadi bahan diskusi dalam Bengkel Sastra yang diadakan oleh salah satu penerbit terbesar di negeri ini, Novel Trilogi Soekram menyajikan keberlimpahan imajinasi sang penulis. Dengan penggambaran yang sangat detil dan manis dari SDD, penikmat sastra dimanjakan sebuah cerita yang mengalir. Novel ini memiliki ide cerita yang sangat unik, di mana tokoh utamanya melompat keluar dari buku dan cerita yang ditulis sang pengarang yang telah meninggal dan menuntut tentang kejelasan nasibnya dalam cerita itu. Novel ini terbagi menjadi tiga babak dilihat dari kacamata tokoh utama, pengarang, dan sahabat pengarang. Ide cerita ini muncul dari ciptaan karya sastra berjudul Siti Nurbaya karya Marah Rusli. SDD merasa tergelitik untuk menelusuri pertanyaan dalam benaknya: Siti Nurbaya ciptaan Marah Rusli. Marah Rusli adalah ciptaan Tuhan, tapi siapakah yang abadi hidup sampai saat ini? Dari pertanyaan inilah, SDD ingin membangun cerita dengan tokoh rekaan yang menuntut kejelasan nasib kepada pengarangnya, yang dalam hal ini, menjadi seperti Tuhan dari tokoh rekaan tersebut.

Terkenal sebagai penyair papan atas, tidak diragukan lagi kepiawaian SDD dalam memainkan kata- kata menjadi rangkaian tulisan yang sangat romantic dan bermakna. Beberapa ungkapan deskriptif mengenai suatu hal sederhana dan fenomena yang normal terjadi di sekeliling kita, menjadi jauh lebih menarik karena sentuhan metaforik sang penulis. Sebagai contoh, hanya untuk menggambarkan keadaan cuaca pancaroba, kata- kata dimainkannya supaya terangkai indah;

“kemarau memang tampaknya masih berkasih – kasihan dengan penghujan.  Penghujan pun belum berniat meninggalkannya. Itulah percintaan kemarau dan penghujan. Manusia tidak memahaminya, dan menyebutnya pancaroba. “ (Trilogi Soekram: Hal. 64)

Rangkaian kalimat romantic penuh makna juga menjadi andalan bagi pujangga yang pernah diganjar penghargaan SEA Write Award pada tahun 1986. ;

“… karena langit masih suka dilewati awan, putih atau hitam dipedulikannya.  Langit suka membelai bulu- bulu awan yang sangat lembut, yang kadang berair sebelum rintik- rintik ke bumi. Langit memang suka aneh. Ia sayang pada penghujan, tetapi juga kepada kemarau. Dan bulan Mei ini langit rupanya ingin keduanya ada sehingga rasa sayangnya bisa ditumpahkan sepenuh- penuhnya.” (Trilogi Soekram: Hal. 65)

“Aku tahu, kau akan tetap terselip di antara huruf- huruf  dalam buku yang kubaca, di antara butir- butir udara yang kuhirup, bahkan di sela- sela sel darah yang menghidupkanku.  Aku tetap percaya kepada kata, kepada huruf.” (Hal. 72)

                Walaupun merasa baru berkenalan dengan karya- karya SDD beberapa tahun belakangan ini, saya menjadi menemukan kenikmatan tersendiri dalam mencerna karya sastra yang semula saya anggap sulit untuk diinterpretasi dan diapresiasi.  Ketika sebuah karya sastra memunculkan efek kenikmatan bagi pembacanya, secercah apresiasi pasti kelak terbentuk dalam diri si penikmat karya sastra, dan untuk menikmati itu semua, pembaca harus mengerti benar bagaimana cara menikmati karya sastra tersebut.  Banyak keajaiban- keajaiban rangkaian kata yang diciptakan oleh Sapardi Djoko Damono dan membuat pengembaraan di belantara kata- kata SDD menjadi sebuah petualangan sastra tersendiri.  Temukanlah keajaiban petualangan sastra tersebut di dalam setiap kata yang ditorehkan penulis jagoan ini. Selamat mengembara! J

Tangan- tangan Mungil

Tags

SAMSUNG CSC

Tangan- tangan mungil itu

Yang pertama kali mengenalkanku kepada keajaiban Tuhan

Tangan- tangan mungil itu

Yang mengajarkanku ketulusan cinta sesama makhluk Tuhan

Tangan- tangan mungil itu

Yang menaburkan semangat di setiap pagi ‘ku membuka mata

Tangan- tangan mungil itu,

Yang menyemangati perjuanganku dan menjadi hadiah terindah pada setiap pengorbanan yang kulakukan

Tangan- tangan mungil itu

Yang menggenggam asaku untuk terus mengabdi dalam hidup

Tangan- tangan mungil itu

Yang kelak akan membuka lalu menggenggam cita- citanya di dunia yang indah ini

Tangan- tangan mungil itu adalah tangan- tangan yang akan selalu dijaga  Malaikat yang dikirimkan Tuhan untuknya.

Genggam tanganku, dan kita akan terus berjalan bersama dalam indahnya hidup

Yogyakarta, 21st March 2015

9.00 PM

To my dearest KAD

SAMSUNG CSC

Jangan Kalah sebelum Berjuang!

Tags

,

IMG_20150306_192138

Ungkapan “Badai Pasti Berlalu” menjadi penyemangat saya akhir- akhir ini. Malu rasanya saat pertama kali hendak menulis sekelumit cerita, yang kalau menurut bahasa ABG masa kini, ala- ala ini. Ya, cerita ala- ala. Ala- ala ibu menyusui, yang bertekad ingin bisa memberi ASI eksklusif kepada bayi tercintanya, ala- ala ibu bekerja yang selalu menyempatkan di tengah kesibukan kantornya yang memang tidak seberapa, untuk bisa memompa ASI untuk disimpan sebagai persediaan ASIP sang bayi di rumah.  Saya sendiri baru menjadi ibu selama 5 bulan ini, setelah menunggu sekian lama kebaikan hati Tuhan memberikan saya anugerah terindah bernama Kirana Anindya Darmastuti. Walaupun baru menjadi ibu, saya percaya, naluri seorang wanita adalah naluri seorang ibu yang telah terbentuk dengan sendirinya, dan tidak ada kata pemula bagi seorang ibu. Setiap wanita adalah seorang Ibu, tanpa melihat segala statusnya. Saya tidak akan bercerita tentang mengapa saya ingin memberi ASI eksklusif dan tidak ingin terjebak ke dalam perang lama yang terkadang disuluh oleh segelintir ibu- ibu yang konon hidup di zaman modern. Siapalah saya ini yang bisa menekankan pentingnya ASI atau bagaimana jika bayi tidak dapat mengkonsumsi ASI? Saya bukanlah pediatri maupun konselor laktasi, pun hakim yang bisa memberi penilaian benar atau salah. Saya hanyalah ibu seorang bayi, istri dari seorang suami, yang selalu ingin menjalankan perannya sebaik mungkin.

Tulisan ini didorong oleh keinginan saya untuk membagikan tentang dahsyatnya kekuatan pikiran, doa dan dukungan dari lingkungan sekitar yang benar- benar dapat memberi dampak positif bagi psikologi ibu menyusui seperti saya. Satu bulan sudah saya harus berjuang empot-empotan dengan hasil ASIP yang pas-pasan dan sangat tidak memuaskan. Ada banyak faktor yang membuat saya kehilangan kuasa atas hasil ASIP saya. Lagi- lagi, campur tangan Tuhan sangat tampak dalam kejadian ini. Bagi saya, ASI, seperti halnya anak, adalah rezeki yang diberikan Tuhan kepada anak melalui si Ibu. Sebagai hamba sekaligus ibu yang baik, saya ingin menjadi perantara bagi Tuhan dan anak saya tercinta. Kali ini, Tuhan menguji kesabaran dan ketekunan saya. Ya, Tuhan mengajarkan banyak hal kepada saya melalui banyak jalan. Pun, pintu rezeki yang terbuka lebar dan terletak di mana-mana, hanya perlu usaha hambaNya untuk dapat menemukan pintu rezeki itu.

Sempat terbersit di pikiran saya untuk menyerah dan memberikan susu formula sebagai pendamping ASIP saya yang tidak lagi banyak. Sekejap, niat saya itu sirna ketika pandangan mata kami saling bertatapan dalam dekapan hangat anak dan ibu yang tengah terlibat dalam proses menyusui. Ikatan inilah yang tidak ingin saya lepaskan.  Perjuangan bersama bayi saya selama beberapa bulan inilah yang tidak ingin saya lepaskan begitu saja. Ketika saya berpikir ingin berhenti dan menyerah memberikan ASIP, saya merasa egois. Ada secercah harapan dalam setiap botol ASIP yang diminum bayi saya. Itulah saya selalu menamakan “a bottle of Hope”, sebotol harapan tentang rezeki yang akan selalu mengalir ke malaikat kecil saya yang membutuhkannya. Badai bernama kekurangan ASIP inilah yang menggoyahkan saya, hingga ada satu titik di mana segala kemungkinan datang menghampiri saya dan seakan memanggil- manggil saya, dan membuat saya segera beranjak dari keterpurukan. Kemungkinan- kemungkinan itu berwujud dalam beberapa metode untuk meningkatkan kembali produksi ASI saya. Daun katuk, segala sayuran daun hijau, jamu uyup- uyup, jamu berbentuk kaplet, hingga ramuan jamu godhod dari Tiongkok pun saya lakoni. Apapun usahanya, demi bayi kecil saya, akan saya perjuangkan! Tidak mudah dan tidak cepat dalam melewati badai ini, sambil terus berusaha dan berdoa yang terbaik. Harapan itu selalu bertumbuh besar sebanding dengan banyaknya ASIP yang terkumpul dalam botol susu bayi saya. Dari berbagai metode, yang memiliki andil paling besar adalah kekuatan pikiran itu sendiri. Sebentuk pikiran positif, sudah pasti akan menghasilkan sebentuk hasil positif. Tidak mudah memang, namun ini yang saya jadikan senjata saya.

5 bulan lebih, dan menanti usia 6 bulan, produksi ASIP saya kembali meningkat dan saya kembali percaya diri bahwa saya pasti bisa melanjutkan perjalanan saya dengan Si Kecil anugerah saya. Saya percaya, setiap ibu di dunia ini memiliki perjuangannya masing- masing dan pasti akan tidak pernah menyerah untuk berjuang demi buah hatinya. Tetaplah berjuang, saudari-saudariku para ibu yang mulia, apapun bentuknya. Saya masih akan terus berjuang, entah sampai kapan, dan tidak akan pernah kalah dan berhenti! Semoga perjuangan saya direstui Tuhan.

L’Académie française

 

sceau_richelieu

C’est très intéressant de trouver ce site: http://www.academie-francaise.fr/ car ça me fait étudier de nouveau cette langue que je n’apprends plus pendant prèsque  ces  trois années. De ce site français, on peut savoir de plus l’histoire de la langue française; son développement, sa transformation, et son usage au milieu de la communauté européenne.

Les françaises doivent être très fiers de sa langue de nation qu’ils pensaient qu’ils ont eu besoin d’établir une institution qui peut sauvegarder leur langue de nation et suivre le développement de la langue. Oui, la langue, comme une part de la culture, se développe et s’évolue toujours. Et c’est la responsabilité de cette institution de maintenir l’originalité de la langue française.

Selon ce site, Richelieu a fondé l’Académie pour  ‹‹donner à l’unité du royaume forgée par la politique une langue et un style qui la symbolisent et la cimentent».  Un exemple de role de cette Académie fondée en 1635, c’est qu’elle concerne à limiter l’usage de l’anglicismes, vis- à- vis de  Néologismes au milieu de la société. Le français doit vivre dans sa nation, qui devient un exemple de la fierté de la culture.  Une langue de nation ne doit pas mourir, en revanche,  elle doit être immortelle, comme Richelieu réfère à la mission de cette académie qui s’est composée de 40 membres.

Voyant l’importance d’une langue dans une nation, je crois que ça sera efficace d’établir une institution comme Académie française afin que notre langue de nation peut se garder sa originalité et que la langue étrangère n’abîme pas notre propre langue. C’est evident que c’est la responsabilité des citoyenettes de garder sa langue de nation puisqu’elle est «immortelle», comme l’espoir de Richelieu.